Apa yang Terjadi Jika Fatwa Rokok Haram Dirilis MUI?

Apakah yang terjadi jika Majelis Ulama Indonesia (MUI) akhirnya merilis fatwa bahwa rokok haram, desakan yang dilontarkan banyak kalangan?

Jelas ada sejumlah konsekuensi. “Dengan status haramnya rokok, perlakuan terhadap barang tersebut akan dikhususkan selayaknya barang haram seperti minuman beralkohol,” ujar Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Hilman Rosyad Syihab secara tertulis pada detikcom, Rabu (13/8/2008). Komisi VIII mengurusi masalah kesehatan.

Konsekuensi itu membuat rokok tidak dapat dijualbelikan di sembarang tempat dan juga tidak boleh diiklankan.

Meski demikian, Hilman mengakui dengan fatwa haramnya rokok tidak berarti aktivitas merokok di Indonesia akan berkurang drastis. “Karena tidak mudah untuk mengubah kebiasaan orang yang merokok untuk berhenti merokok seketika,” kata politisi PKS ini.

Hilman menyatakan mendukung dan mendesak MUI untuk mengeluarkan fatwa haram merokok. Menurutnya, Komisi VIII akan sejalan dengan MUI karena sebenarnya fatwa haram rokok sudah pernah diwacanakan sebelumnya di internal komisi ketika pembahasan RUU Jaminan Produk Halal.

Hilman menuturkan, sebagai lembaga yang yang berwenang mengeluarkan fatwa, memiliki fungsi membimbing umat dan amar ma’ruf nahi munkar, MUI berhak untuk menetapkan status hukum haram merokok. Apalagi sebagian besar umat Islam yang merokok meyakini bahwa mengisap lintingan tembakau tersebut masih sebatas makruh.

“Pemahaman bahwa merokok itu halal sangat berbahaya, karena umat menjadi tidak tabu untuk merokok meski kesehatan mereka terancam,” kata pria yang juga dikenal sebagai ustad ini.

Fatwa haramnya rokok, menurut Hilman, juga sudah dikeluarkan oleh Lembaga-Lembaga Fatwa di berbagai negara yang berpenduduk mayoritas muslim. Sebagian Ulama Internasional seperti Syaikh Yusuf Qordowi telah sejak dahulu juga mengharamkan rokok.

Di samping itu, lanjutnya, hukum makruh merokok yang diyakini umat Islam Indonesia saat ini sudah tidak relevan dan harus ditinjau ulang. Sebab sudah begitu banyak penelitian di dunia yang menyimpulkan bahwa rokok amat sangat membahayakan kesehatan.

Padahal dalam Islam segala sesuatu yang membahayakan adalah haram dan harus dijauhi. Sedangkan ulama terdahulu yang mengatakan bahwa rokok itu makruh hukumnya belum mengetahui besarnya dampak negatif rokok pada waktu itu.

Hilman juga menghimbau semua pihak untuk mendukung rencana MUI mengeluarkan fatwa haram rokok. Tentunya fatwa MUI saja tidak cukup tanpa dikuatkan oleh daya dukung dari pemerintah berupa produk undang-undang. Karenanya Hilman mendesak Pemerintah dan DPR untuk segera meratifikasi Framework Convention of Tobacco Control (FCTC) dan memasukkan RUU Dampak Pengendalian Tembakau dalam revisi Program Legislasi Nasional.(www.detik.com)

 

3 Comments

  1. Lho ya hak Anda mau tetap merokok atau minum alkohol sekalian. ^_^ orang dosa yang nanggung kan juga Anda… ^_^ Peace!

  2. Alkohol dan benda2 memabukkan lain mas! ada ayatnya chusus, sedang rokok ga ada.

  3. Saya sangat hormat dengan MUI, akan tetapi jika MUI mulai merasakna dirinya sebagai penguasa agama dan menjadi otoriter, kehormatan saya pada mereka akan luntur. Mohon diingat sesuatu yang meruntuhkan keimanan manusia ketika mereka menguasai jabatan, seksualitas, harta benda dan judi.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s