Republik Hot Spot

Saya tertarik membaca liputan media “KOMPAS” hari Minggu (8/6/2008) tentang maraknya perkembangan HotSpot atau Wi-fi di daerah Yogyakarta. Disebutkan bahwa perkembangan area yang tercover oleh Wifi ini tidak saja hanya terdapat di public area seperti mall, hotel ataupun cafe tetapi sampai pada warung kopi atau angkringan (istilah jogja-nya) yaitu semacam kafe juga namun dalam bentuk yang lebih merakyat. Di tempat tersebut para mahasiswa pada umumnya, remaja pelajar dan bahkan karyawan tahan berjam-jam melototin laptop yang mereka bawa, sambil menyeruput es teh, ataupun kopi yang telah dipesan sebelumnya. Jadi bukan pemandangan aneh jika kita melihat mahasiswa ataupun pelajar menenteng-nenteng laptop mereka kemanapun mereka pergi. Ibaratnya, (seperti yang dilaporkan liputan ini) jika ada Republik Hot Spot, maka Yogyakarta-lah ibukotanya.

Memang perkembangan hot spot di kota Pekanbaru tidak-lah selaju dan se-kencang seperti di kota Yogyakarta, maklum kota Pekanbaru bukanlah kota pelajar seperti layaknya Yogyakarta, karena umumnya memang hal baru atau sesuatu yang baru itu lebih mudah diserap oleh para kaum muda yang dalam hal ini mungkin adalah para mahasiswa. Mereka-lah pelopor pembaharuan dan mungkin juga pencipta trend yang dalam hal ini sekali lagi adalah penggunaan wifi untuk akses internet tanpa kabel. Namun tidak perlu pesimis, kemungkinan 5 sampai 10 tahun mendatang perkembangan kota Pekanbaru bisa menyamai Yogyakarta dalam hal teknologi, karena sekarang pun sudah mulai banyak area yang ter-cover oleh wifi untuk akses internet tanpa kabel walau itu masih terbatas pada hotel dan beberapa mall, serta satu public area yaitu Masjid Agung.

Namun, dalam post kali ini saya tidak membahas masalah perkembangan Wi-fi, tetapi hanya sedikit mengomentari dan membahas dampak dari teknologi Wi-fi ini.

Disebutkan dalam liputan tersebut bahwa makin maraknya perkembangan Wi-fi sampai ke kafe-kafe tempat para mahasiswa nongkrong tersebut, menyebabkan penjualan laptop meningkat tajam didaerah Yogyakarta, bahkan seperti yang disebutkan oleh salah satu vendor laptop merek terkenal, penjualan di Yogya mengalahkan wilayah Jakarta untuk vendor yang sama. Sedangkan kisaran harga untuk laptop yang telah dilengkapi dengan fasilitas wi-fi adalah antara Rp 10 juta – Rp 11 juta. Suatu hal yang cukup aneh menurut saya, ditengah maraknya demo menolak kenaikan harga BBM dan ditengah himpitan kenaikan harga bahan pangan dan kesusahan kehidupan perekonomian rakyat kecil. Mungkin karena melihat data statistik penjualan vendor-vendor laptop tersebut yang terus meningkat, akhirnya pemerintah merasa sah dan wajar-wajar saja untuk menaikan harga BBM. Lha wong beli laptop aja mampu, masa’ beli beras tak mampu??

Kedua, ada sebagian yang mengatakan bahwa dengan maraknya perkembangan dan pemakaian wi-fi tersebut menunjukkan bahwa kita sudah menguasai teknologi wi-fi atau internet tanpa kabel. Apa hal ini benar?? Karena menurut saya, kita hanyalah sebatas pengguna atau pemakai saja, belum sampai pada taraf penguasaan teknologi. Kenapa saya bilang begitu?? Yang pertama karena penemu teknologi wi-fi ini bukan-lah bangsa kita dan kedua jika kita sudah benar-benar menguasai teknologi ini, tentu-lah kita sudah bisa memanfaatkannya untuk kepentingan orang banyak dan mengembangkannya lebih jauh lagi hingga menghasilkan suatu teknologi yang baru yang mungkin lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana kita bisa dikatakan menguasai teknologi wi-fi tadi jika fakta dilapangan menunjukkan bahwa kita, mayoritas pemakai hanya memanfaatkan teknologi tersebut untuk chatting, e-mail dan membuka situs friendster. Kalo hanya untuk itu, bukankah teknologi handphone dengan harga yang lebih terjangkau sudah bisa meng-cover-nya??

Ketiga, disebutkan juga dalam liputan tersebut bahwa dampak dari penggunaan teknologi wi-fi tersebut adalah banyak dari pengguna tersebut menjadi menderita “autis”, karena mereka lebih fokus kepada laptop daripada sekelilingnya dan bahkan ada yang lebih parah untuk chatting dengan sesama teman yang semeja saja mereka lebih memilih menggunakan IRC daripada ngobrol langsung kepada yang bersangkutan. (hehehe…ini sih sudah autis level akut). Intinya mereka lebih suka bersosialisasi lewat laptop daripada berinteraksi secara langsung atau verbal. Hal ini yang dikeluhkan oleh sejumlah pengelola kafe di Yogya, bahwa kafe-nya jadi sunyi senyap walau banyak pengunjung, karena masing-masing tenggelam dan asyik dengan laptopnya. Bahkan, (masih menurut laporan tadi) ada pengelola kafe yang sampai mencabut kabel hot spot-nya dan meminta pengunjungnya untuk berinteraksi satu sama lain agar suasana kafe-nya menjadi normal. Bayangkan jika teknologi ini sudah menyentuh sampai ke tingkat RT/RW, untuk pertemuan atau rapat antar warga RT/RW cukup pake tele-conference dan didepan laptop atau komputer, ngobrol dengan tetangga cukup pake IRC atau messenger, atau bahkan mungkin kerja bakti dan gotong royong cukup didepan laptop atau komputer saja???

Selanjutnya silakan pembaca yang menilai dan merenungkannya, karena walau bagaimanapun teknologi itu sendiri adalah bersifat netral dan dia diciptakan sebenarnya bertujuan untuk memudahkan pekerjaan manusia. Tinggal manusianya-lah yang menentukan sikap terhadap teknologi tersebut. Semoga Bermanfaat. ***

2 Comments

  1. mau nanya ni mas….mungkin g,,,,dgn me modifikasi antena wifi…..daerah yg terpencil kayak saya ini..menjangkauny….misalny fasilitas yg d imiliki mesjid agung annur…nyampe ke kulim….berapa jauh c….maximum fsilitas ini dapat d gunakan

  2. Yesalover´s Unique Softcase..Unique Softcase, Batik Softcase


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s